Friday, November 22, 2013

Movie Review : The Hunger Games: Catching Fire (2013)

Life is about Drama... and Politics. Begitu menyenangkan untuk disaksikan sebagai hiburan, tapi belum tentu menyenangkan jika Anda yang menciptakan drama (dan politik) tersebut dan selanjutnya dikonsumsi oleh Publik, bukan?

Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence, Silver Linings Playbook) harus rela menciptakan drama bagi lunatic citizens of Capitol, dan tentunya atas Politik busuk Presiden Snow (Donald Sutherland, Horrible Bosses). Setelah memenangkan The 74th Hunger Games tahun lalu, Katniss bersama Peeta Mellark (Josh Hutcherson, Epic) harus menjalani Tur Kemenangan ke semua Distrik, tak terkecuali Capitol. Presiden Snow tak pernah puas dengan keputusan The Hunger Games tahun lalu, 2 orang pemenang, cinta lokasi yang muncul sesama peserta dibalut romantika remaja? Gimme a Break! Hal tersebut diperparah dengan sikap Katniss yang terkesan rebellious karena memicu pemberontakan di distrik lainnya, dengan simbol Mockingjay yang membuat Snow gusar, tak heran jika Ia marah besar, tapi apa boleh buat, rating yang menentukan. Aksi Katniss dan Peeta sontak langsung menimbulkan euphoria yang luar biasa! Bagaikan sinetron yang disetir oleh minat penonton yang begitu tinggi, maka drama Katniss & Peeta pun dilanjutkan. Poor Gale.

Untuk menghindari adanya Revolusi lewat pemberontakan tersebut, Snow pun berencana untuk melenyapkan Katniss, tipikal, layaknya pemimpin busuk yang tak mau kalah. Tapi bagaimana caranya? Katniss adalah anak emas Capitol, tak gampang untuk membunuhnya begitu saja! kecuali ide brilian yang diajukan oleh Plutarch (Philip Seymour Hoffman,  The Ides of March), Penerus Seneca Crane, untuk membuat Katniss kembali bertarung di arena, this year's The 75th Hunger Games. Mungkinkah? Well, Tak ada yang tak mungkin bagi Snow, dan malang bagi Katniss, tahun ini merupakan Quarter Quell ke 3, sebuah event spesial yang hanya terjadi tiap 25 tahun sekali. Di event yang spesial ini peraturan The Hunger Games sedikit dimodifikasi, yaitu kembali mempertarungkan pemenang-pemenang terdahulu dari masing-masing distrik, layaknya World Idol, iykwim. Dan Katniss adalah calon tunggal mewakili wanita dari Distrik 12.

The Hunger Games: Catching Fire adalah sekuel dari The Hunger Games. Masih ingat dengan film pertamanya? Ya, tak begitu mencolok. Maklum, Film yang diadaptasi dari trilogi dengan judul yang sama ini memang terasa kurang nendang dan beberapa penonton justru merasakan......bosan saat menonton film tersebut. Toh juga pada waktu itu Jennifer Lawrence masih dibilang 'pemula' dan tak begitu diperhitungkan di film ini, dan yang paling penting, The Hunger Games disutradari oleh Sutradara yang.. yaaah, juga kurang greget di genre tersebut, Gary Ross. But here we are, Jennifer Lawrence sang pemegang Piala Oscar tahun lalu, dan surprisingly, sekuel ini ditangani oleh Francis Lawrence yang sebelumnya menangangi I Am Legend dan dibantu oleh penulis skrip yang handal seperti Michael Arndt (Little Miss Sunshine, Brave, Toy Story 3) dan juga Simon Beaufoy (Slumdog Millionaire, 127 Hours). See? The Hunger Games: Catching Fire benar-benar spesial.

Personally, The Hunger Games tidaklah begitu buruk, pretty much enjoyable, tapi Catching Fire menunjukkan peningkatan yang amat baik. 146 menit terisi dengan detail (dari novelnya) sehingga sangat disayangkan untuk menghilangkan 1 detik pun dari film ini. Sebenarnya bagian awal tidaklah membosankan, porsi 50:50 antara bagian awal dan akhir adalah kunci penting untuk membangun emosi penonton, dan ketika film ini sudah masuk ke segment The Hunger Games, maka sisa waktu terasa begitu singkat. Cukup adil, karena kehilangan sedikit bagian saja di awal film mungkin akan memberikan efek yang berbeda bagi film ini. Ya, Lawrence bisa menciptakan klimaks dari titik 0 hingga penonton ikut "mendidih" 100 derajat celcius di akhir film adalah poin penting disini. Dan pastinya semua itu dibalut oleh komposisi karakter yang benar-benar kuat dan solid sepanjang waktu. Efek piala Oscar memang membawakan dampak pada JenLaw, but the truth is, JenLaw membuktikan kalau dia memang pantas. Bahkan Josh Hutcherson tampak lebih baik jika dibandingkan film pertamanya (dan film-filmnya yang lain). Sebagai film adaptasi novel, Catching Fire mampu menyenangkan kedua pihak, pembaca dan non- pembaca. As a non-reader, harus diakui bahwa film ini benar-benar gila! in a good way.

Standing Applause itu layak diberikan kepada Suzanne Collins, si pemilik ide gila, Sang penulis Trilogi Novel The Hunger Games. Sebuah satir yang mencambuk wajah masa kini. Siapa yang mengira kalau masa depan akan terlihat seperti itu? layakkah kematian datang begitu saja dan ironisnya disaksikan dengan antusiasme, keramaian seperti menyambut Hari Raya. Sedikit banyak, The Hunger Games memang merefleksikan kehidupan saat ini, pemimpin yang busuk, acara tv yang terlalu banyak diaduk, dan banyak lagi. Apapun itu, Catching Fire mengundang penontonnya untuk menunggu aksi selanjutnya, Mockingjay yang nantinya akan dirilis 2014 dan 2015. Oh yes, give me that Time Machine!
----------
This is no place for a girl on fire. -- Katniss Everdeen
----------

The Hunger Games: Catching Fire (2013)
21 November 2013
Action, Adventure, Sci-Fi, Thriller
146 minutes
Rated PG-13 for intense sequences of violence and action, some frightening images, thematic elements, a suggestive situation and language
Director: Francis Lawrence
Writers: Simon Beaufoy, Michael Arndt, Suzanne Collins
Stars: Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Liam Hemsworth


0 comments :

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 

Subscribe to the Newsletter

Contact Me

Send an E-mail to : adhrdi@gmail.com

The Blogger