Saturday, April 9, 2011

Movie Review : 69 (2004)




"School sucks!" 




Bagaimana menurut Anda? Segala sesuatu yang berhubungan dengan tugas, ujian, bla bla bla pastinya benar-benar malesin banget. Teringat salah satu lagu yang dibawakan oleh Busted yang berjudul "What I Go To School For?", hal-hal yang menarik di sekolah justru bukan diperoleh teori semata, tapi bagaimana kita menjalin interaksi dengan teman, hingga menemukan yang namanya cinta disana. Memang, yang namanya sekolah dan belajar itu perlu sekali sebagai bekal di masa depan, tapi jangan terlalu serius juga kali ya. Dan taukah kamu kalau di Jepang sana, tepatnya di tahun 1960-an, Sekolah benar-benar sucks banget! Masa-masa seperti ini adalah masa-masa genting disana, perang sedang terjadi di vietnam, dan lainnya. Saat ini pula, muncul tekanan kalau tiap siswa dibebani dengan sekolah untuk belajar yang rajin, masuk universitas, kerja untuk pemerintah, menikah lalu punya anak, begitulah seterusnya. Di tahun sekarang ini pun, keadaan tak jauh berbeda dengan periode tersebut, tapi paling  tidak atmosfer kebebasan sekarang jauh lebih baik jika dibandingan dengan masa tersebut. Nah, Beberapa siswa yang "berbeda" menganggap kalau masa 60-an tersebut hanyalah program pemerintah untuk menciptakan alat negara. Yang memerlukan sebuah revolusi untuk merombak sistem yang sudah ada.

Kensuke Yazaki (Satoshi Tsumabuki) adalah salah satu siswa yang masuk kedalam jajaran siswa-siswa yang sedikit "berbeda" tersebut. Menganggap kalau pemerintah sedang mengalihkan isu perang vietnam dan sedang mempersiapkan sebuah rencana dengan menggunakan siswa-siswa sekolah sebagai kelinci percobaannya. Padahal Ken bukanlah orang yang seperti itu, mungkin karena pengaruh dari orang tuanya yang merupakan seniman, Ken juga begitu berbakat di dunia seni, khususnya musik dan film. Bahkan, Ken berambisi untuk membuat sebuah festival musik, karena begitu terinspirasinya ia dari festival-festival besar di Amerika.

Selanjutnya, disekolah Ken mulai akrab dengan Tadashi Yamada (Masanobu Ando) atau yang asik disapa Adama, seorang siswa pandai dan berprestasi disekolah. Ken dan Adama mempunyai beberapa prinsip yang sama, apalagi kalau soal Puisi. Walaupun di beberapa topik Adama kurang nyambung dengan Ken, hal ini dikarenakan Adama berasal dari daerah kecil yang ngekos di Nagasaki, makanya sedikit kurang informasi. Paling tidak, Adama orangnya tampan, pintar, dan to the point, makanya asik untuk dijadikan teman. Selain Adama, Ken juga bersahabat dengan Manabu Iwase (Yuta Kanai) yang kurang populer disekolah, yang selalu berada dibawah bayang-bayang Ken dan Adama.

Selain ambisi dengan Musik dan Film, Ken juga berambisi untuk dekat dengan Kazuko "Lady Jane" Matsui (Rina Ohta), yang menjadi dambaan hati. Setali tiga uang dengan Ken, Adama pun suka dengan sahabatnya Lady Jane, Yumi Sato (Yoko Mitsuya). Disinilah anda akan menyaksikan semangat seorang Ken untuk mewujudkan impian, serta sedikit kisah tentang pubertasnya!

69 a.k.a sixty nine a.k.a shikusutinain adalah sebuah film yang diadaptasi dari novel karya Ryû Murakami dengan judul yang sama, jangan salah sangka dulu melihat judulnya karena novel/film ini adalah sebuah jalinan cerita komedi yang berlatar tahun 60-an. Dan tahun 1969 merupakan puncak dari perjalan Ken dan teman-teman. Berbicara tentang tahun 1960-an, film ini menggambarkan kisah-kisah klasik pada periode itu yang membuat kita sedikit bingung dengan istilah-istilah yang ada. Perang Vietnam, Led Zeppelin, Cream, Janis Joplin, hingga Godard dan masih banyak istilah asing lainnya yang akan anda temukan dalam film ini. Tapi jangan khawatir karena hal ini tidak terlalu membingungkan jika Anda mengikuti jalan ceritanya. Ntar juga, anda juga akan ikut merasakan kerennya periode ini, kok.

Apa yang menarik dari film ini? menurut saya, elemen-elemen penting yang ada dalam novel tersampaikan dengan baik. Saya sendiri telah membaca novelnya terlebih dahulu, sehingga istilah-istilah yang sebutkan sebelumnya menjadi bumbu penyedap di film ini, tapi jangan takut juga bagi Anda yang belum membca novelnya karena Anda akan beradaptasi nantinya. Cerita filmnya sendiri sih tidak ada yang spesial, tapi karakter Ken lah yang spesial di film/novel ini.

Ngomongin soal karakternya, karakter Ken yang diperankan oleh Satoshi memang lebih ganteng dari novelnya, tapi benar-benar dapet feel-nya, jail, kocak, bandel, suka ngeles, pokoknya si Satoshi ini beneran bisa deh ngebawain karakternya Ken. Ando juga mantep tuh, bawain karakter Adama yang cuek, keren, cool, dan menurut teman saya juga ganteng! walaupun menurut saya sih biasa aja :p. FYI, di novelnya sendiri ketampanan Adama diekspos oleh Murakami, begitu juga dengan Ken, sering memuji ketampanan Adama, walaupun menurutnya dia sendiri juga ga jelek-jelek amat. Kalau Lady Jane? Saya sedikit kecewa sih, sama peran ini karena menurut saya kurang cocok aja gitu dengan novelnya, tapi paling tidak karakter Yumi Sato yang digambarkan memiliki boobs yang besar cocok deh di film ini. Selain itu juga banyak karakter-karakter yang pas di film ini seperti si Nakamura dan teman-teman lainnya. 

Sebagai kalimat penutup, 69 mengajarkan kita untuk peduli terhadap apa yang sedang terjadi di sekitar kita, dan khusus anak muda, jangan patah semangat untuk mewujudkan ambisi kalian yang masih berkobar-kobar itu! Ayo buktikan kalau kalian juga bisa. Manfaatkanlah masa muda untuk bisa bebas sebebas-bebasnya tapi masih dalam aturan! Hidup ini jangan dibikin susah! Dan untuk guru-guru yang suka otoriter, maksain muridnya, ingat aja kalau murid-murid itu nggak bisa dipaksakan! Jadi biarin aja si anak milih jalannya sendiri!

0 comments :

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 

Subscribe to the Newsletter

Contact Me

Send an E-mail to : adhrdi@gmail.com

The Blogger