Sunday, April 3, 2011

Movie Review : 20th Century Boys Trilogy

Mengadaptasi sebuah film dari buku, komik apalagi novel bukan perkara yang gampang. Merupakan sebuah tantangan besar bagi mereka untuk mendapatkan hasil yang benar-benar memuaskan. Memang mudah untuk menuangkan novel/buku ke dalam sebuah film. Tapi pertanyaan terbesar yang muncul adalah, apakah film hasil adaptasi ini bisa memberikan kepuasan bagi mereka yang menonton film tersebut? Dimengerti oleh mereka yang belum baca novelnya, dan khususnya bagi mereka yang telah menyantap buku tersebut, benar-benar puas dengan live action-nya.

Menurut saya pribadi, mengadaptasi sebuah film dari buku bukanlah hal mudah, kebayang aja kan, gimana tebalnya novel Harry Potter atau LOTR, dan semua lembaran itu akan di-press kedalam gerak visual hanya selama 90-180 menit? sesuatu yang tidak mungkin sebenarnya kalau ingin menuangkan semuanya kedalam film, dan itulah yang menjadi tantangan utama para filmmaker! Kalau soal adaptasi sendiri, The Lord of The Rings merupakan salah satu favorit saya, walaupun novelnya lebih tipis jika dibandingkan dengan novel-novel Harry Potter, tapi durasi ketiga film-nya benar-benar panjang, kan?

Selain Buku atau novel, masih banyak media lain yang bisa diadaptasi untuk difilmkan, Komik! Dari Hollywood sendiri tak perlu dijelaskan lagi betapa banyaknya film-film yang diadaptasi dari komik, yang kebanyakan merupakan tema superhero. Selain, Hollywood, kita semua juga tau kalau Jepang merupakan rajanya komik atau yang sering disapa lewat sebutan Manga! dan tak banyak juga fim-film dari komiknya jepang telah diangkat ke layar lebar. Masih ingat juga kan saat hollywood mengambil alih komik Dragon Ball untuk difilmkan dan hasilnya benar-benar hancur, isu ketika Death Note yang akan diambil oleh Hollywood pun sempat meresahkan. Yah, Paling tidak, Death Note Live Action versi Jepang bisa dikatakan berhasil memuaskan para fanboys!

Okay, sepertinya prelude nya udah kebanyakan, saatnya kita masuk ke topik utama, 20th Century Boys! Ready?

Perkenalkan, Urasawa Naoki. Seorang komikus favorit saya. Komik favorit saya yang ditulisnya yaitu Monster, dan 20th Century. Alirannya berbau thriller, misteri, dan sedikit horror, tapi juga ada dramanya. Mari kita  lebih fokus pada 20th Century Boys, 20th Century Boys adalah manga yang terbit dalam 24 edisi, ya 24 edisi! tak heran jika saat mendengar live-action dari manga ini, otak saya langsung senang tapi disisi lain justru takut kalau hasilnya nanti bakalan tidak sesuai dengan harapan. Tapi saat tau kalau film ini akan rilis dalam beberapa bagian, rasa penasaran pun semakin timbul. Oh, ya, Komik 20th Century Boys pastinya juga rilis di Indonesia dibawah Level Comics.


Baik film atau komiknya, 20th Century Boys bercerita tentang sekelompok anak-anak yang diketuai oleh Kenji Endo, memiliki imajinasi yang liar seperti kebanyakan anak-anak, mereka membuat semacam basecamp di tengah-tengah lapangan untuk menghindar dari anak yang suka nge-bully, didalam basecamp itu, mereka menciptakan dunia mereka sendiri, membawa majalah dewasa secara diam-diam milik orang tua mereka, membuat bendera dengan simbol sendiri, hingga menciptakan sebuah skenario imajinasi dalam sebuah buku yang disebut dengan Buku Ramalan. Dalam buku itu, imajinasi mereka adalah superhero yang menyelamatkan bumi, menyelamatkan bumi dari musuh yang membunuh manusia secara massal.

Waktu terus berlalu, usia semakin bertambah, anak-anak tersebut kini sudah dewasa dan menjalani aktifitas dewasanya masing-masing. Sampai akhirnya muncullah sekte/aliran sesat yang diketuai oleh Sahabat ("Tomodachi" pada Versi Jepang/Film, "Friend" pada Versi Inggris) yang menggunakan simbol masa kanak-kanak Kenji dan kawan-kawan. Tak ada yang menyadari mengenai simbol ini karena memang sudah lama sekali, sampai akhirnya banyak kejadian aneh yang terjadi dan perilaku Sahabat yang semakin membuat gerah. Dan yang membuat situasi semakin aneh adalah peristiwa-peristiwa aneh yang terjadi itu sesuai dengan Buku Ramalan Kenji dan kawan-kawan. Kenji dewasa dan kawan mencoba mencari tau siapakah Sahabat sebenarnya karena yang mengetahui tentang Simbol masa kanak-kanak dan Buku Ramalan hanyalah teman-teman Kenji.


Komik 20th Century Boys merupakan sebuah komik kolosal dengan karakter yang banyak, latar waktu yang cukup panjang, dan tingkat kompleksitasnya yang begitu rumit. Dengan jumlah edisi sebanyak 24 jilid untuk komiknya, semuanya terbayar dan pembaca bisa mengerti dengan jalannya cerita, walau sesekali melihat kebelakang agar tak ketinggalan. Tapi kalau filmnya? Ugh. Film adaptasi menurut saya bisa dikatakan berhasil jika yang menonton itu puas, baik yang sudah membaca komiknya apalagi yang belum membaca. Dan untuk 20th Century Boys ini, saya rasa penonton yang belum membaca komiknya pastilah sulit untuk mengikuti jalan cerita di film ini.

Komik dengan judul asli 20世紀少年, Nijusseiki Shōnen ini telah difilmkan dengan jumlah pemain terbanyak dalam sejarah film Jepang, salah satu alasannya yaitu adanya 3 alur waktu utama di film ini, yaitu Kenji anak-anak, Kenji sekarang, dan Kenji masa depan. Belum lagi orang-orang yang terlibat sebagai anggota aliran sesat, juga ada korban-korban senjata biologis. Jadi bisa dibayangkan kan jumlah pemainnya? Ngomongin soal pemain, saya-benar-benar senang dengan pemilihan karakter-karakter ini! Selama ini, saya yang cuma berimajinasi hanya dengan melihat grafis komiknya saja, dan melihat karakter-karakternya menjadi Live dan begitu nyata membuat saya takjub! Ya, bagaimana tidak, tokoh-tokoh yang ada dikomik benar-benar sangat mirip sekali dengan komiknya. Bahkan untuk peran peran Pendeta, Mariah, dan Britney sekalipun! Salut. Apalagi tokoh-tokoh utamanya seperti Occho, Kenji, Fukube, Sadakiyo, Si Kembar, hingga si Handuk-Ingus! Benar-benar salut dan takjub atas pemilihan karakter ini.


Sayang, sepertinya Kenji kurang maksimal dalam film ini. Selain itu juga sang sutradara tidak menggiring para penontonnya untuk merasakan ketegangan seperti yang dibawa oleh Urasawa Naoki dalam komiknya. Memang, Urasawa Naoki juga terlibat dalam film ini, tapi sepertinya memang agak sulit untuk memfilmkan  20th Century Boys, jadinya ya, tetap saja film ini kurang unsur "thriller"-nya. Padahal, ending setiap film sudah pas sekali untuk menciptakan
cliffhanger yang membuat penonton ingin tau dikelanjutan di film kedua dan ketiga, tapi juga tidak kekurangan porsi di masing-masing film. Secara keseluruhan, menonton film ini menjadi bosan pada paruh kedua film. Tapi sesekali akan muncul tawa dari unsur komedi-komedi singkat yang ada di film ini.

Yah, paling tidak selain pemilihan karakter yang benar-benar luar biasa, ada satu hal yang menjadi nilai tambah juga pada film ini. Special Effects! Ya, efek yang ditawarkan benar-benar real. Nggak heran juga sih, soalnya kan ketiga film ini katanya merupakan film termahal di Jepang sana. Jadinya, Uang mahal yang keluar tadi terbayar juga kan? Setelah menonton film, sepertinya saya tidak menginginkan jika Monster-nya Urasawa Uaoki dijadikan film! Asal benar-benar bisa digarap dengan sempurna! ^^


P.S: Bagi yang sudah nonton dan baca komiknya, nyadar gak kalau scene-scene Namio haru (Si Penyanyi Expo) menyanyikan lagu "Hello Hello Everybody" itu benar-benar kocak? Nggak nyangka kalau lirik lagunya yang selama ini cuma dibaca eh rupanya kayak gitu. LOL. Okay, rasa penasaran tentang lagu "Guutara Suudara" yang fenomenal itu pastinya juga terobati! haha.


2 comments :

  1. Tukeran Link Yuk. Link ini sudah saya pasang di http://bkampuspanda.wordpress.com/2011/04/02/tukeran-link/

    nih link saya

    nama : Bioskop Kampus Panda

    URL : http://bkampuspanda.wordpress.com/

    kalau sudah di pasang, tolong konfirmasi di http://erwinhariyanto.wordpress.com/ruang-tamu/

    terima kasih

    ReplyDelete
  2. Udah di linkback. Thanks udah berkunjung :)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 

Subscribe to the Newsletter

Contact Me

Send an E-mail to : adhrdi@gmail.com

The Blogger