Saturday, April 16, 2011

Movie Review : The Little Comedian (2010)





"Will you love me, if I'm not funny?"


Anda mungkin akan tertawa terbahak-bahak saat melihat aksi Dono, Kasino, dan Indro saat manggung atau mungkin melihat aksi-aksi kocak dari komedian lainnya. Tapi tahukah Anda kalau kisah yang ada dibalik layar dari kehidupan para komedian ini tidak melulu lucu, bahkan bisa rumit sekali. Saya ingat dengan kisah dari Hollywood, Funny People tentang hal ini, walaupun dari luar terlihat begitu lucu, belum tentu didalamnya terlihat demikian. Dan kali ini ada sebuah grup komedian dari Thailand, Ha Ha Ha Ha Ha Ha (Hey, Saya tidak sedang tertawa lo, Ini emang nama grup komedinya!) yang mirip dengan Teamlo tempoe doeloe yang suka manggung dengan lelucon-lelucon yang diselingi dengan parodi lagu-lagu (Teamlo yang dulu? Iya, Kalo Teamlo yang sekarang garing sih, imo), dan ada yang unik dari kisah dibalik Ha Ha Ha Ha Ha Ha ini.

Plern (Jaturong Phonboon) adalah pimpinan dari grup Ha Ha Ha Ha Ha Ha yang suka manggung dari kafe ke kafe. Bersama anggota lainnya yang juga masih dalam lingkup sebuah keluarga besar, juga didukung sang Istri yang menjadi manager, Plern meneruskan usaha keluarga yang sudah berlangsung secara turun temurun, yaitu Komedian.

Hingga akhirnya Tock (Chawin Likitjaroenpong) lahir ke dunia, Plern dan sang Istri sangat senang karena mereka berharap, semoga saja Tock akan meneruskan usaha turun temurun ini saat dewasa nanti, apalagi karena Tock adalah anak pertama dan laki-laki pula dari keluarga ini. Tock kecil sudah mulai diasah kemampuannya oleh sang Ayah, Tock ikut manggung bersama grup dari kafe ke kafe. Ternyata ekspektasi sang Ayah terhadap Tock sepertinya tidak sesuai dengan yang diharapkan, lelucon dari Tock amat garing, sehingga tidak ada penonton yang tertawa. Hal ini jadi membuat si Ayah khawatir dan takut kalau usahanya akan hancur jika Tock terus-terusan ikut manggung. Dan, sejak saat itu, Tock tidak pernah lagi ikut mentas bersama sang Ayah.


Beberapa tahun berselang, Tock memiliki adik perempuan yang bernama Mon (Nachapat Charurattanawaree). Berbeda dengan Tock, Mon ternyata begitu berbakat dan memiliki lelucon-lelucon yang kocak. Tak heran jika lelucon Mon disukai oleh penonton dan membuat Mon terus mentas bersama sang Ayah. Tak hanya dipanggung, Mon pun menjadi anak emas dirumahnya yang membuat Tock jadi kurang mendapat perhatian dari orang tuanya. Untuk merebut kembali perhatian dari keluarganya sekaligus peran komedian yang seharusnya dimiliki olehnya, ia pun terus berusaha untuk belajar lelucon-lelucon dan menuliskannya kedalam buku. Tapi tetap saja lelucon yang dibuat Tock masih kurang lucu dan kadang Tock menjadi bahan lelucon oleh ayah dan paman-pamannya. Hal ini membuat Tock menjadi gerah dan mencoba untuk mendapat perhatian lebih dari seorang Dokter Kecantikan, Dr. Preeya Wanlertsin (Paula Taylor) atau yang akrab disapa dengan sebutan Dr. Ice, yang ditemui Tock saat salah seorang temannya beobat ke klinik kecantikan tempat si dokter tersebut bekerja. Tak pernah ada yang tertawa saat Tock nge-joke, dan Dr. Ice merupakan pengecualian yang tertawa saat Tock nge-joke.


Saat menonton film ini, saya benar-benar tidak berekspektasi banyak, karena sebelumnya saya baru beberapa kali menonton film komedi thailand. Dan efek yang saya dapatkan setelah menonton film ini benar-benar diluar dugaan. Karena sempat lupa juga dengan cover filmnya (parah, i knew it!), saya sempat mengira kalau film ini adalah film komedi romantis seperti Crazy Little Thing Called Love ataupun Hello Stranger. Eh, Nggak taunya The Little Comedian ini merupakan film Komedi keluarga yang siap membuat anda tertawa dengan aksi kocak seluruh anggota keluarganya (Juga Tock yang membuat anda tertawa dengan ke-garing-annya). Bayangkan saja, Ada sebuah adegan dimana si Nenek sedang check-up kerumah sakit, dan saat ditanya oleh Dokter, si nenek terus menjawab pertanyaan dokter dengan lelucon-lelucon. Haha, SARAP! Belum lagi adiknya Tock yang centil abis, membuat kita tertawa hanya dengan melihatnya bercentil-ria. Pokoknya, satu keluarga ini memang SARAP! Capital S-A-R-A-P!

Hmm, jadi dari awal sampai akhir film ini bakalan ketawa terus ya? bisa dibilang sih iya, tapi kisah cerita yang ada justru menuntun Anda untuk selanjutnya dibawa ke momen yang mengharu-biru. Inilah yang menjadi keunggulan dari The Little Comedian ini menurut saya, tak hanya tertawa, tapi Anda juga akan terharu nantinya. Memang, porsinya sendiri sih masih kalah jika dibandingkan dengan unsur komedi yang menjadi sajian utama dari film ini, tapi paling tidak, efek yang diberikan jadi membuat The Little Comedian tampak lebih Smart dan menghilangkan kesan yang cheesy.


The Little Comedian atau บ้านฉัน..ตลกไว้ก่อน(พ่อสอนไว้) - Baan Chan Talok Wai Korn (Por Son Wai) ternyata memang sebuah paket komplit. Dalam film ini, ada beberapa point unik yang ternyata jauh dari ekspektasi lucu, yaitu saat Tock yang selalu menjadikan Dr. Ice sebagai tempat "mengadu" ternyata tidak menyadari kalau Dr. Ice sendiri menyimpan begitu banyak masalah. Ya, begitu kompleks. Walaupun pada awalnya saya melihat perkembangan cerita pada kehidupan pribadi Dr. Ice jadi sedikit berlebihan (Memang, segmen ini rasanya masih nyambung dengan Tock sendiri dan juga mengingat peran Dr. Ice/Paula Taylor sebagai pemeran utama dalam film ini). Tapi, ternyata kisah ini mampu menarik benang merah terhadap kisah Tock sendiri. Kredit harus diberikan kepada Sang Sutradara Vithaya Thongyuyon dan Mez Tharatorn.

Hubungan Ayah-Anak antara Plern dan Tock juga salah satu major issue yang ditawarkan oleh The Little Comedian. Sekilas Plern emang suka jail ama Tock, menjadikan Tock yang notabenenya garing menjadi bahan lelucon dan ditertawakn oleh satu keluarga, hingga Tock jadi merasa kalau Plern tak sayang pada dirinya. Faktanya? Plern begitu sayang pada Tock. Hal ini merujuk pada salah satu adegan dimana (#spoiler) sekolah Tock sedang memperingati hari Ibu, dan Ibu Tock yang saat itu sedang melahirkan Mon dirumah sakit, sehingga tidak dapat hadir pada acara tersebut. Plern yang memang kocak pun mengenakan pakaian wanita dan berakting seperti ibu Tock. Entah bagaimana saya harus mendeskripsikan adegan ini, pastinya semua tawa, haru, sedih, senang menjadi satu. See? Jangan beranggapan kalau figur seorang ayah yang dingin, cuek, hingga kejam sekalipun tak sayang pada anaknya. Tak perlu diragukan lagi kalau seorang Ayah pastilah sayang pada anaknya.

Finally, marilah kita berkaca pada Tock mengajarkan kita untuk mencari jati dirinya. Terus berjuang untuk mewujudkan mimpinya, dan akan terus berusaha untuk mengejar impian tersebut, (baik itu mengejar Dr. Ice, maupun "mengejar" sang Ayah sekalipun).

2 comments :

  1. Hi there...
    saya juga baru beberapa hari yang lalu nonton film ini. di film ini ada 1 bagian yg paling saya suka, waktu Tock bilang ke Dr. Ice kalau Tock bersedia jadi ayah dari anak yg dikandung Dr. Ice. Anak kecil aja mau ngambil tanggung jawab segede itu, yah ini memang di film aja sih, tp nilai moralnya bener2 bagus dan dalem.

    ReplyDelete
  2. sumpah ini mengingatkan kita semua bahwa kasih sayang seorang ayah yang cara menyalurkan kasih sayang kepada kita berbeda dengan IBU sehingga banyak dari kita menganggap Ibu lebih sayang pada anaknya padahal kasih sayang mereka sama besarnya ..good lah

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 

Subscribe to the Newsletter

Contact Me

Send an E-mail to : adhrdi@gmail.com

The Blogger